Hari Jum’at tanggal 27 September 2024 aku melakukan perjalanan ke Bukit SiKunir yang ada di area Dieng, Wonosobo. Aku ke sana bersama teman-teman kantor UPT Pusat TIK Universitas Negeri Malang. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka kegiatan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Kegiatan ini umumnya dilakukan setiap 2 tahun sekali. Tujuannya adalah untuk merefresh pikiran yang sudah mulai penat karena banyaknya pekerjaan.
Terkait dengan ESQ, sebenarnya ESQ merupakan gabungan dari EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient). Jika digabungkan artinya adalah pengendalian kecerdasan emosi dan spiritual. Tujuan dari kegiatan ini sebenarnya adalah tercapainya hubungan yang seimbang antara manusia dengan manusia dan manusia dengan tuhannya. Dalam konteks kegiatan yang aku ikuti, tujuan utamannya adalah membangun hubungan erat secara emosi antara teman-teman yang ada di kantor.
Perjalanan ke Bukit SiKunir yang aku lakukan ini diorganisir oleh Wahana Tour and Travel. Jadi kami sudah mulai dari keberangkatan sampai kepulangan. Tempat-tempat yang akan dikunjungi juga sudah diatur oleh Wahana. Jadi, kami tinggal ikut saja.
Berangkat Dari Malang ke Bukit Sikunir
Kami berangkat dari Malang menggunakan Bus sekitar pukul 07.00. Bus yang kami gunakan cukup enak. Setiap kursi bus sudah disediakan sandaran kaki. Bus tersebut keluar dari Malang, melalui pintu tol Singosasari dan keluar di exit Tol Bawen. Perjalan dari Malang hingga ke Tol Bawen membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Selama 4 jam, kami habiskan waktu dengan karaoke.
Dari exit tol Bawen, kami beristirahat terlebih dahulu di Rumah Makan H Ismun 7 yang ada di Kabupaten Semarang. Rumah makan ini adalah rumah makan prasmanan. Selain istirahat untuk makan, kami juga beristirahat untuk sholat jumat.

Menuju Penginapan Rumah Budaya
Setelah istirahat perjalanan kami lanjutkan. Tujuan berikutnya adalah Rest Aset kalianget. Perjalanan menuju ke tempat tersebut membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Di sana, kami berganti Bus, dari bus yang besar dan nyaman ke bus yang lebih kecil yang hanya muat diisi maksimal 15 orang. Jadi kami harus menggunakan 2 bus. Pergantian bus ini dikarenakan kami akan menuju ke puncak dieng dan tidak mungkin ke sana menggunakan bus yang besar.

Perjalanan menuju puncak dieng harus melalui jalan yang berkelok-kelok. Kami diombang ambing di dalam Bus kira-kira sekitar 1.5 jam. Bus itu membawa kami ke penginapan yang ada di puncak dieng. Nama penginapannya adalah Rumah Budaya Dieng. Penginapan tersebut berada di ketinggian 2000MDPL, sehingga di sana terasa cukup dingin.

Malam harinya kami ada acara makan bersama di penginapan tersebut dengan konsep barbeque. Selain acara makan-makan juga ada acara pelepasan salah satu teman kami yang akan pensiun. Acara tersebut berlangsung hingga pukul 21.00. Setelah itu aku segera tidur karena paginya aku harus berangkat menuju bukit sikunir.

Pendakian ke Bukit Sikunir
Tepat pukul 03.00 tanggal 28 September 2024 kami berangkat menuju bukit sikunir. Perjalanan dimulai dengan menggunakan bus dari penginapan menuju ke gapura Desa Sembungan. Dari gapura ini, bisa tidak bisa lagi mengantarkan kami, kami harus berpindah transportasi. Pilihannya hanya ada 2, yaitu jalan kaki atau menggunakan ojek. Kami pilih menggunakan ojek dengan biaya 15rb untuk sekali jalan. Ojek motor itu dapat menggangkut hingga 2 orang.

Ojek motor mengantarkan kami ke titik awal pendakian ke Bukit Sikunir. Di sini, ojek sudah tidak bisa lagi mengantarkan kami ke Bukit. Kami harus berusaha ke puncak dengan berjalan kaki. Perjalanan dengan kaki diawali dengan melalui area orang berjualan. Kanan kiri banyak sekali orang yang menjual makanan, minuman dan juga baju.
Setelah melalui area jualan, jalan kami berubah menjadi gelap gulita. Kami melalui jalan yang terbuat dari batu yang disusun menjadi undakan. Waktu itu ada 2 jalur, jalur kanan dan jalur kiri. Jalur kiri undakannya sudah mulai rusak, jadi kami disarankan untuk tetap berada di jalur kanan. Jalan yang kami lalui basah, tapi bukan karena hujan. Air tersebut berasal dari embun yang terjatuh akibat angin gunung yang berhembus.
Waktu itu bukan hanya kami yang melakukan perjalanan ke bukit sikunir. Banyak juga orang-orang menuju ke sana. Kami sesekali menimpali orang lain untuk bercanda. Bercanda adalah salah satu cara melupakan rasa lelah.
Puncak Bukit Sikunir
Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya kami tiba di mushola yang ada di pos 2 bukit sikunir. Sayangnya, saat kami tiba di sana, airnya belum menyala. Menurut informasi yang aku dapatkan air dan toilet disana dibuka jam 4 saat pengunjung ramai, jika tidak ramai, bisa jadi lebih dari jam 4. Kami sholat dulu lalu kami melanjutkan perjalanan menuju ke puncak untuk mencari sunrise.

Sesampainya di puncak, harapan kamipun sirna. Ternyata kabut sangatlah tebal sehingga sunrise tidak terlihat. Di bukit sikunir yang kami dapatkan adalah kabut, angin, batu dan tanah. Tidak ada sunrise kala itu. Mungkin, bagi yang ingin berburu foto mengalami kekecewaan. Tapi aku tidak seberapa kecewa dengan sunrise, bagiku perjalanan yang aku lalui cukup mengobati rasa rinduku akan sebuah pendakian. Tapi, jangan bayangkan mendaki ke Bukit Sikunir seperti mendaki Gunung yang tinggi ya. Pendakiannya sangat singkat dan menurutku kurang begitu menantang.
Perjalanan ke Bukit Sikunir tentunya sudah masuk dalam kategori ESQ. Kami membangun emosi melalui perasaan kebersamaan saat melakukan pendakian ke bukit. Kami juga selalu berdoa di jalan untuk keselamatan dalam perjalanan. Jadi hubungan vertikal dan horizontal tercapai melalui perjalanan ini. Perjalanan ini juga mengingatkan kami betapa besarkan kuasa sang pencipta.
Demikianlah sekemulit kisah perjalananku ke bukit sikunir. Sebenarnya, masih ada perjalanan lain selain ke bukit ini. Jika nanti sempat, aku akan menuliskan kisah yang lain.





