Linux Manjaro 18

Linux Manjaro 18 merupakan Ditsro yang diturunkan dari Distro Arch Linux. Kali ini aku akan berbagi pengalamanku menggunakan Linux Manjaro. Sebelum menggunakan Manjaro aku adalah pengguna Linux Fedora. Aku lumayan lama menggunakan Fedora. Tapi, akhirnya aku pindah Linux Manjaro. Begini cerita lengkapnya.

Aku waktu itu mendapatkan pinjaman laptop baru dari kantor. Laptop tersebut adalah Dell XPS 15 9560. Laptop tersebut masuk dalam kategori ultrabook. Sebenarnya laptop itu sudah ada bawaan Windows 10. Tapi, aku adalah Linux Fanboy yang tidak akan mau menggunakan Windows. Pilihan pertama yang akan aku install tentu saja Fedora. Peralatan untuk menginstall Fedora-pun telah aku siapkan. Beberapa kali aku mencoba install tapi tidak berhasil. Akhirnya berhasil setelah menonaktifkan graphics bawaan dengan cara menambahkan kode berikut di grub.

nouveau.modeset = 0

Tidak sampai 10 menit, installasi selesai. Setelah berhasil install, tentunya laptop harus di reboot. Setelah reboot dan masuk ke Fedora, ternyata adalah masalah baru. Tiba-tiba laptopnya freze setelah beberapa saat masuk displaynya. Sampai 3 kali reboot, masih tetap freze. Akhirnya aku masuk ke display level 3, yaitu terminal. Kemudian login dari terminal. Beberapa saat kemudian, muncul error bahwa terjadi konflik proccessor. Tiba-tiba saja beberapa core tidak bisa berjalan. Sekedar info laptop dell ini ada 8 core. Kalau tidak salah 2 atau tidak core yang tidak respon. Setelah browsing-browsing akhirnya ketemu solusinya.

Linux Fedora akhirnya berjalan lancar pada laptop Dell ini. Nah, ternyata eh ternyata laptop dell ini layarnya 4K, tulisannya semua jadi kecil-kecil banget. Di-scale gak bisa. Aduh, repot banget. Coba-coba untuk install driver nvidia juga kagak berhasil. Akhirnya aku putuskan untuk menyerah, aku ingin mencari Linux yang lain. Sekalian ganti suasana.

Menginstall Linux Manjaro 18

Setelah browsing-browsing aku bertemu dengan Manjaro. Awalnya aku ingin sekali menggunakan arch, karena di facebook Arch sering muncul diberanda. Tapi, aku selalu beracuan pada distrowatch.com disana muncul nomor 1 adalah Manjaro. Aku tanya-tanya ke google siapa si Manjaro ini sehingga mentereng di nomor 1 distrowatch. Ternyata dia adalah turunan dari Arch. Sangat kebetulan, akhirnya tanpa pikir panjang aku download saja. Internet UM sangat kencang, sehingga download Manjaro 2 GB tidak membutuhkan waktu lama.

Langsung saja aku buat installasi Manjaro ke FlashDisk dan mulai menginstall manjaro. Ternyata di Manjaro, aku harus tetap menonaktifkan nouveau dengan cara nouveau.modeset = 0. Tidak apa-apalah. Untuk instalasi kali ini aku memilih untuk menggunakan DE KDE. Biasanya aku menggunakan DE GNome. Tapi, karena tadi ceritanya ingin ganti suasana tentu saja DEnya juga harus ganti.

Tidak butuh waktu lama untuk menginstall Manjaro, hanya beberapa menit saja installasi selesai. Langsung aku dibawa pada tampilan Manjaro KDE yang menurutku cukup elegan. Seperti biasa, setelah menginstall linux, yang selanjutnya dilakukan adalah update repository, update package dan kemudian install-install aplikasi. Pada manjaro ini, perintah yang digunakan berbeda, untuk install aplikasi digunakan perintah:

sudo pacman -S nama_aplikasi

Berikut ini adalah tampilan linux manjaro 18 yang aku install.

Tampilan Desktop Manjaro
Mozilla Firefox di Linux Manjaro
Membuka Mozilla Firefox di Manjaro
Coding menggunakan atom di Manjaro

Demikianlah ceritaku berpindah dari Fedora dan mulai menggunakan Linux Manjaro. Sebenarnya linux yang aku gunakan juga masih ada yang lain. Masih ada cerita linux lain yang kalau sempat akan aku tulis juga.

Ardhan Wahyu Rahmanu
Ardhan Wahyu Rahmanu

Aku adalah seorang pemikir sistematis yang idealis, mandiri, dan reflektif — terus-menerus membangun hidup yang bermakna melalui belajar, bekerja, menulis, dan menjaga arah hidup yang sadar.

Articles: 99

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!